Pages

Subscribe:

11.22.2012

The Paps


NAMA The Paps diambil dari kata papier, yakni sejenis kertas tipis yang biasa dipakai pembungkus lintingan rokok. The Paps mulai dikibarkan tahun 2003. Saat itu mereka mulai meretas band ini dengan membawakan lagu-lagu sang legenda Bob Marley pada gigs yang diselenggarakan komunitas reggae Bandung.
Mereka mulai melepaskan ketergantungan pada lagu-lagu Bob Marley dengan cara merilis singel pertama berjudul Life is a Big Joke pada 2004. Singel ini dimasukkan dalam kompilasi Bandung Miller Time yang berisi sejumlah band bermacam genre.
Setelah singel itu keluar, The Paps kemudian diminta terlibat dalam Indonesian Reggae Revolution (IRR), sebuah proyek kompilasi musisi reggae pertama di Indonesia yang digagas 267 Records. Kompilasi Indonesian Reggae Revolution akhirnya dirilis pada tahun 2005. The Paps menyumbangkan singel berjudul Hang Loose Baby.
Memasuki 2006, The Paps mulai merekam materi untuk album pertama yang isinya berupa eksplorasi musik reggae dengan sentuhan dub dan soul jazz. Singel yang termuat dalam Kompilasi Indonesia Reggae Revolution, Hang Loose Baby, kemudian dipilih sebagai judul album pertama The Paps yang dirilis label Zyape O Zyure Records pada 2007.

Genre
funksouljazzpsychedelicdubreggae

Website
http://www.myspace.com/serangan_optik
http://www.myspace.com/havefunaround 


bandung-underground.com

BILLFOLD


SILAKAN berfantasi mengenai apa saja ketika raungan gitar Angga, cabikan bas Ferrin, dan gebukan drum Pam Alayubi menopang teriakan Gania. Sebuah fantasi ranum yang dipicu sajian antara H20, Set Your Goals, dan sedikit Shelter, dalam bungkus vokal Gania yang terdengar fresh, aggressive, dan memancing kita untuk kembali menghujamkan kaki ke atas kepala teman.
Dibentuk pertengahan tahun 2010, Billfold memang berniat memberikan sebuah pemandangan beda di panggung metal kota kembang. Hardcore/punk dengan sentuhan vokalis perempuan, ah kita tak harus berangkat ke Negeri Paman Sam untuk menemukan band seperti ini! Hahaha….
Tapi, Billfold bukan hanya Gania. Mereka membalut diri dalam sebuah energi konfrontatif, antara hardcore, punk, dan little bit rock. Cobalah tutup mata ketika nomor It’s Over atau Save Them to Save Us diputar dengan level volume medium, kita akan dipapah menuju sebuah lorong di jantung New York 90-an.
Bagi Gania, Angga, Ferrin, dan Pam, ibarat sebuah dompet yang bisa membungkus hal paling esensial ketika mereka bermain musik. “Dalam bahasa Inggris, Billfold memang berarti dompet,” tutur Gania.

MEMBERS
Gania Alianda-vocal
Ferrin-bass
Angga-guitar
Pam Alayubi-drum

GENRE
Punk/Hadrcore/Rock

CONTACT
Brez +628562031969

WEBSITE
http://www.purevolume.com/new/billfold
http://www.facebook.com/pages/Billfold

bandung-underground.com

AFTERCOMA

 
AFTERCOMA awalnya hanya sebuah proyek solo Ridho Fatwerks. Namun, proyek ini akhirnya berevolusi menjadi sebuah konstruksi band pada 2008. Tak perlu menunggu waktu terlalu lama bagi Aftercoma untuk membuktikan eksistensi sebagai sebuah band. Sebuah EP yang diberi tajuk Breath, mereka rilis pada tahun itu juga. Mereka membebaskan seluruh materi di EP tersebut untuk diunduh lewat sejumlah situs.
Cara itu terbukti ampuh untuk mengerek nama Aftercoma. EP Breath bergaung cukup kencang, sehingga kesempatan untuk melabrak panggung demi panggung di scene Bandung Underground pun silih berdatangan. Mulai dari gigs kecil sampai panggung besar. Seiring dengan itu, Aftercoma mulai merenggut massa fanatik.
Massa fanatik Aftercoma kemudian menamakan diri mereka Pemberontak alias Rebels. Nama ini diambil dari singel pertama Aftercoma yang termuat dalam EP Breath.
Musik Aftercoma berfondasi pada hardcore. Namun, mereka juga memperkaya resam musik mereka dengan nuansa heavy metal, punk, dan death metal. Bahkan mereka tidak memungkiri jika ada unsur dari Radiohead, Sigur Ros, atau Explosions in The Sky.
Memasuki tahun 2011, Aftercoma merilis album pertama mereka yang diberi tajuk Breathless. Ini tak lain adalah repackage dari EP Breath, dengan penambahan lima lagu baru. Di album ini, Aftercoma mengajak Ipang BIP untuk berkolaborasi dalam lagu Raga Terbakar. Kolaborasi ini sekaligus peneguhan bahwa musik Aftercoma tidak kaku alias bisa menembus genre lain.


Members
Wyl Mthrfckr-vokal
Ridho Fatwerks Alhadi-gitar/vokal
Ferry Arliansyah-gitar
Dikdik Prasetiadi-bass
Uus Pluto-drum
 
Genre
Metal Hardcore

Website
 
 

Strategi Bertahan Musisi Indonesia di Era Digital dan Globalisasi

http://images.detik.com/content/2012/10/05/1096/Music-Biz.jpg
Jakarta - Semakin maraknya pengunduhan lagu secara ilegal di internet kini dianggap sebagai faktor pemicu utama mundurnya industri musik. Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) menyatakan, pengunduhan ilegal dan pembajakan musik berpotensi merugikan hingga Rp 1,8 triliun pertahun.

Para label rekaman yang tergabung dalam Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) juga tak hentinya melakukan kampanye anti pembajakan dan illegal downloading. Usaha-usaha tersebut bukan tidak membuahkan hasil, hanya saja kini era musik sudah beralih ke dunia digital dan perlu strategi khusus dalam menghadapinya.

Di era transisi ini, masih banyak musisi yang berharap dapat kembali meraih keuntungan besar dari penjualan album mereka yang berbentuk CD. Bagai pungguk merindukan bulan, mungkin ini peribahasa yang tepat untuk hal tersebut. Sebagai contoh, jika kita lihat ke era 90-an, rasionalkah musisi yang menjual albumnya dalam bentuk kaset dan piringan hitam (vinyl) padahal di masa itu album berbentuk CD sedang berjaya? Tentu tidak rasional. Sama seperti sekarang, di era digital ini, musisi harusnya sudah mengeluarkan album dalam bentuk digital bukan dalam bentuk fisik lagi.

Kerja sama dengan industri telekomunikasi

Strategi utama di era musik digital adalah dengan bekerja sama dengan industri telekomunikasi. Salah satu bentuk kerjasamanya adalah dengan ringback tone (RBT). Belakangan ini, beberapa musisi mendapatkan royalti yang fantastis oleh penggunaan ringback tone yang memakai lagu ciptaan mereka. Di tahun 2006, ketika grup band Samsons sedang melejit dengan lagu "Kenangan Terindah," mereka mampu meraih untung hingga lebih dari Rp 21 miliar melalui RBT. Hal serupa juga dialami oleh Ungu, alm. Mbah Surip, dan musisi-musisi lainnya. Selain karena keuntungannya miliaran, penjualan RBT juga dianggap menguntungkan karena tidak mungkin dibajak.

Selain bekerjasama dalam bentuk RBT, strategi selanjutnya adalah bekerjasama dengan online/digital music store. Di era digital, tentu ini solusi yang dapat menjawab masalah pembajakan dan pengunduhan musik ilegal. Seperti yang dilakukan oleh iTunes Store dari Apple, misalnya. Mereka menyediakan jasa untuk pembelian lagu dan membayarnya secara online.

Langkah ini juga sudah diterapkan oleh beberapa produsen smartphone seperti Blackberry dan Android dengan Social Music Network-nya, dan Nokia dengan Nokia Music Store. Dengan digital music, penikmat musik akan mendapat kemudahan mendapat lagu kesukaannya secara legal, dan musisi pun mendapat untung atas karyanya. Untuk mendukung hal ini, tentu diperlukan juga peran pemerintah untuk terus memblokir situs-situs illegal downloading.

Era digital, era-nya website

Di masa ini, komunikasi dan informasi sangat berkembang pesat melalui internet. Untuk itulah membangun kerja sama dengan web developer untuk mengembangkan situs legal download dirasa sangat krusial. Situs yang dimaksud hampir mirip dengan digital music store yang ada di smartphone, hanya saja situs ini diperuntukkan untuk para pengakses dari PC.

Seringkali, konsumen lebih tergoda dengan yang gratis dibanding yang berbayar, termasuk dalam hal mengunduh lagu. Tak masalah. Buatlah kesepakatan dengan web developer ataupun investor (jika ada) mengenai keuntungan yang akan diperoleh jika Anda ingin membuat situs download legal yang gratis. Misalnya, dengan mengambil keuntungan dari iklan. Jika ada situs untuk mengunduh lagu secara legal dan gratis, tentu orang-orang akan lebih memilih untuk mengunduh lagu di situs tersebut dibandingkan situs ilegal. Pemerintah, musisi, label musik, dan media pun akan mempromosikan situs tersebut secara sukarela karena dengan begitu lah industri musik dapat bangkit dari merebaknya illegal downloading.

Di sisi lain, ‘meng-gratiskan’ pengunduhan lagu memang mempunyai resiko tersendiri. Bisa saja di tengah jalan bisnis tersebut kekurangan pemasukan karena hanya mengandalkan iklan. Solusi yang terbaik memang dengan membuat situs legal music downloading yang berbayar dengan harga lagu terjangkau, sehingga bisa mudah diakses siapa saja. Tentu hal ini dapat menjadi pertimbangan besar bagi para investor yang ingin membuat situs legal music downloading, mengingat Indonesia mempunyai pangsa pasar yang cukup besar.

Industri musik Indonesia belum menjadi raja di negeri sendiri

Selain masalah pembajakan dan illegal downloading, masalah utama industri musik Indonesia di era digital dan globalisasi yaitu kurangnya minat dan apresiasi terhadap musik lokal. Jika banyak yang menyatakan hal ini disebabkan musik Indonesia kurang berkualitas, saya sangat tidak setuju. Justru banyak musik berkualitas yang lahir di negeri kita namun kurang mendapat apresiasi dari masyarakatnya dan lebih sukses di negeri orang. Miris, bukan?

Di Indonesia, aliran musik pop Melayu dianggap mempunyai potensi pasar yang cukup besar. Sama sekali tidak ada yang salah dengan hal ini. Tiap negara pasti punya selera musiknya masing-masing. Asalkan band-band beraliran pop Melayu tidak lantas menurunkan kualitas dan mengejar keuntungan semata, pasti apresiasi masyarakat Indonesia akan jauh lebih besar dan tidak menutup kemungkinan band aliran musik pop Melayu menjadi identitas musik Indonesia.

Lantas, jika ada musisi beraliran lain yang mengatakan tidak ingin memproduksi album karena selera musik masyarakat Indonesia hanya kepada aliran pop Melayu, tentu ini bukan solusi yang benar.

Misalkan ada sebuah band beraliran rock, kemudian band tersebut baru akan membuat album ketika selera musik masyarakat Indonesia terhadap musik beraliran pop Melayu menurun, tunggu waktu saja, apakah dengan tidak memproduksi lagu rock masyarakat Indonesia akan beralih mencintai musik rock? Tentu tidak.

Sebagai contoh, lihat saja penyanyi muda seperti Agnes Monica. Aliran musiknya sama sekali bukan pop melayu, namun ia kerap kali mendapat penghargaan di dalam negeri dan kini mulai dilirik oleh dunia internasional.

Singkatnya, masyarakat Indonesia kini sudah mulai jeli dalam memilih. Dalam berkarya, jangan sampai mengorbankan kualitas demi mencari keuntungan semata. Hanya musisi yang konsisten dan berkualitas yang akan mendapat apresiasi tinggi. Itulah alasan utama musisi luar negeri dari berbagai aliran mendapat tempat tersendiri di hati penggemarnya, termasuk di Indonesia.

Jika musisi Indonesia bisa melakukan hal tersebut ditambah dengan pemasaran yang menarik, pastilah musik Indonesia menjadi raja di negerinya sendiri. Mulai sekarang, hargai lah musik karya anak bangsa dengan menghindari pembajakan juga illegal downloading!

RollingStone Indonesia

Pure Saturday: The Five Horsemen

image
Jakarta - Terlalu banyak bukti yang mengatakan bahwa Pure Saturday adalah sebuah band kasual. Mulai dari gaya berpakaian santai, penampilan panggung lepas tanpa beban, hingga ucapan bassist Ade Purnama pada pertengahan Mei lalu di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta dalam rangka konferensi pers menyambut konser tunggal bertajuk Pure Saturday – Grey Concert, yang juga dilaksanakan guna meluncurkan Grey selaku album studio keempat kuintet tersebut.

Menanggapi pertanyaan moderator Denny Sakrie soal alasan jeda tujuh tahun antara album ketiga, Elora, dengan Grey, Ade menjawab: “Kami memang santai, tidak mau ada beban dalam pengerjaan album. Malah terkadang timbul rasa malas juga.”

Hubungan Pure Saturday dengan Pure People, sebutan bagi penggemar band Bandung bentukan 1994 tersebut pun bisa dibilang kasual. Ade bersama vokalis Satrio “Iyo” Nur Bambang, gitaris Aditya “Adhi” Ardinugraha dan Arief Hamdani, serta drummer Yudistira “Udhi” Ardinugraha tak sungkan bercengkerama dengan para penggemarnya untuk waktu lama. Ikatan spesial antara idola dan penggemar itu mulus terjalin.

Empat ratus lembar tiket Pure Saturday – Grey Concert yang disediakan promotor G Production ludes terjual hanya dalam tiga hari. “Sudah tujuh tahun setelah album ketiga Elora dan lima tahun setelah album kumpulan lagu terbaik Time for a Change, Time to Move On, publik mungkin rindu dengan Pure Saturday,” ujar Ferry Dermawan selaku Program Director G Production.

Ferry lalu menceritakan bahwa gagasan untuk menyelenggarakan konser ini dimulai pada akhir tahun 2011 saat ia dihubungi oleh manajemen Pure Saturday guna mengajaknya silaturahmi ke rumah Yockie Suryo Prayogo, kolaborator grup tersebut di pentas musik lintas generasi gagasan G Production, Djakarta Artmosphere 2011.

“Ternyata anak-anak Pure Saturday sekalian mengajak Yockie Suryo Prayogo untuk kolaborasi di album baru. Gue langsung terpikir buat konser sekaligus peluncuran album baru tersebut. Kemudian gue rasa Gedung Kesenian Jakarta adalah tempat paling cocok untuk konser itu,” kenang Ferry.

Mengenai status konser tunggal yang diemban Pure Saturday – Grey Concert, Iyo menjelaskan: “Utamanya ini adalah konser peluncuran album, tapi dikemas dengan hal-hal yang menurut kami membuat konser ini berbeda dibanding panggung-panggung kami sebelumnya. Temanya sendiri disesuaikan dengan lokasi konser yang merupakan gedung teater.”

Ekspektasi otomatis memuncak pada hari H, 15 Mei, baik soal materi album baru maupun konser. Ketegangan yang sudah pasti dirasa pihak band juga dialami oleh pihak penggemar yang tersebar di area Gedung Kesenian Jakarta; bukti kuat betapa spesialnya ikatan kedua pihak.

Waktu menunjukkan pukul delapan malam lewat dan panita mulai mempersilakan pengunjung untuk masuk ke dalam gedung. Berkat antusiasme penonton yang meluap-luap, tak perlu waktu lama sampai semua tempat duduk dihuni.

Sebagai sebuah gedung teater, sudah sepantasnya tirai merah terlebih dulu menutup isi panggung sampai acara diputuskan untuk mulai. Untuk Pure Saturday – Grey Concert, tirai dibuka pukul 20.30 WIB. Sorak sorai dan tepuk tangan penonton mengalir deras sebagai respon pembukaan tirai tersebut.

Sesuai dengan apa yang telah dikatakan pihak band pada konferensi pers, konser ini akan dibagi menjadi dua sesi: pertama adalah album baru secara penuh dan kedua terdiri dari sekumpulan lagu album perdana hingga ketiga.

Lagu klasik “Centennial Waltzes” gubahan Johan Strauss II selaku intro album Grey diputar dengan ditemani penayangan video hitam putih bergambar mata yang disorot dari jarak superdekat sebagai latar. Para personel Pure Saturday, termasuk bintang tamu Yockie Suryo Prayogo dan kecuali Iyo, naik ke atas panggung satu per satu setelah video tersebut rampung diputar.

Selengkapnya baca di majalah Rolling Stone edisi 86.