Pages

Subscribe:

12.05.2012

Album Kelima Maliq & d’Essentials Lebih Beragam

Album Kelima Maliq & d’Essentials Lebih Beragam

Maliq & d’Essentials ketika tampil pada Eyegasmic

Tampil enerjik dan maksimal, serta sukses membuat para penonton terika histeris, baik laki-laki maupun perempuan di Eyegasmic, Sabuga, Sabtu (3/11) malam, Maliq & d’Essentials rupanya tengah mempersiapkan album kelima.


Hal ini diungkapkan Angga (vokal) dan Widi (drum) beberapa saat sebelum Maliq naik panggung. Menurut mereka berdua, album kelima Maliq ini akan lebih beragam, tidak melulu jazz lagi dan jazz lagi. “Di dalamnya nanti juga akan ada unsur musik dangdutnya,” jelas Angga dengan serius. Saat ini pengerjaan albumnya pun juga tengah mencapai tahap akhir proses.


Rencananya single terbaru mereka akan dirilis pada akhir tahun ini. Di dalam single dan album baru mereka, Maliq mengembangkan musik kreatif yang tidak itu-itu saja. Bahkan Widi sendiri mengakui kalau album kelima ini banyak lagu yang dibuat tanpa direncanakan. “Jadi waktu lagi membuat lagu, ada aja lagu-lagu yang dibuat tanpa kita rencanakan sebelumnya, termasuk genre musik Maliq yang berubah haluan, enggak terlalu jazz lagi. Meskipun terkadang kita sempat bosen, tapi bukan berarti musik jazzy membosankan. Ya adanya Lale juga menginspirasi kita untuk ada unsur musik rocknya juga sih di album baru ktia nanti,” ujar Widi tersenyum.


Tema yang diusung oleh Maliq & d’Essentials dalam album kelimanya ini mengusung tema on the spot. Inspirasinya muncul dari momentum yang terjadi secara natural dari para personilnya. “Well, let’s see what’s going on next,” tutup Angga.



Written by: Satria Perdana / @satriaaperdanaa
Photo by: Satria Perdana / @satriaaperdanaa

1 Januari 2013, Ucay Tak Lagi Bersama Rocket Rockers

1 Januari 2013, Ucay Tak Lagi Bersama Rocket Rockers
 
Setelah sukses menjalani tur Eropa bersama Petersaysdenim dalam PSD Invasion Tour Europe yang berakhir 12 November lalu, Rocket Rockers kini harus kehilangan vokalisnya, Ucay. Kemarin, Jum’at (23/11), dalam akun Twitter milik Ucay, @ALakaUCAY, Ia menyatakan mundur dari Rocket Rockers karena merasa keresahannya sudah memuncak untuk keluar pada Januari lalu.

 



Berikut ialah cuplikan Tweet dari Ucay yang disampaikan dalam beberapa poin:

“16. Jujur mulai th 2006 keresahan itu dimulai. Sy selalu memikirkan hal itu. Posisi sy jujur spt double standard. #SFYL

18. Terlintas keinginan utk resign dr RR, tp sy merasa spt msh pny PR utk RRF (RocketRock Friends) utk sharing hal2 positif lwt karya#SFYL

19. Waktu berjalan sampai akhirnya tekad sy utk keluar dr RR sangat kuat di awal Januari 2012. Semua sudah fix diubun2. #SFYL

26. Alasan sy mengundurkan diri adlh panggilan jiwa sy. Suara "I don't belong here" sbenernya sdh terdengar dr hati sy bbrp th lalu.#SFYL

28. Jadi terhitung tanggal 1 Jan 2013, saya sudah bukan personel Rocket Rockers lagi :') #SFYL”


Di dunia maya sendiri saat ini tengah banyak fans dan kerabat musisi yang terus mensupport Ucay untuk karirnya di masa depan kelak, seperti Dochi (Pee Wee Gaskins), Raynard (Thirteen), Tetsu (Ad. Killing Me Inside), Faisal (Syubidupidapap/Danger Ranger) serta Ferron (Bla Bla Blast) yang sempat bertemu Ucay saat tur di Eropa kemarin.


Tiga belas tahun berkarya bersama Rocket Rockers, bukan hal mudah bagi Ucay. Hujatan, semburan ludah dan yang terberat bagi Ucay, pujian, merupakan kisah tersendiri yang telah dilalui bersama Rocket Rockers. Melalui Soundtrack For Your Life, kehidupan Ucay banyak berubah hingga saat ini dan merupakan sebuah batu loncatan bagi karir bermusiknya yang tak akan ia lupakan. Seperti dalam Tweet terakhir soal pengunduran dirinya “37. @rocket_rockers Kalian adalah separuh cerita hidup sy :') #SFYL”. Terus berkarya, Ucay...

Sumber


11.22.2012

The Paps


NAMA The Paps diambil dari kata papier, yakni sejenis kertas tipis yang biasa dipakai pembungkus lintingan rokok. The Paps mulai dikibarkan tahun 2003. Saat itu mereka mulai meretas band ini dengan membawakan lagu-lagu sang legenda Bob Marley pada gigs yang diselenggarakan komunitas reggae Bandung.
Mereka mulai melepaskan ketergantungan pada lagu-lagu Bob Marley dengan cara merilis singel pertama berjudul Life is a Big Joke pada 2004. Singel ini dimasukkan dalam kompilasi Bandung Miller Time yang berisi sejumlah band bermacam genre.
Setelah singel itu keluar, The Paps kemudian diminta terlibat dalam Indonesian Reggae Revolution (IRR), sebuah proyek kompilasi musisi reggae pertama di Indonesia yang digagas 267 Records. Kompilasi Indonesian Reggae Revolution akhirnya dirilis pada tahun 2005. The Paps menyumbangkan singel berjudul Hang Loose Baby.
Memasuki 2006, The Paps mulai merekam materi untuk album pertama yang isinya berupa eksplorasi musik reggae dengan sentuhan dub dan soul jazz. Singel yang termuat dalam Kompilasi Indonesia Reggae Revolution, Hang Loose Baby, kemudian dipilih sebagai judul album pertama The Paps yang dirilis label Zyape O Zyure Records pada 2007.

Genre
funksouljazzpsychedelicdubreggae

Website
http://www.myspace.com/serangan_optik
http://www.myspace.com/havefunaround 


bandung-underground.com

BILLFOLD


SILAKAN berfantasi mengenai apa saja ketika raungan gitar Angga, cabikan bas Ferrin, dan gebukan drum Pam Alayubi menopang teriakan Gania. Sebuah fantasi ranum yang dipicu sajian antara H20, Set Your Goals, dan sedikit Shelter, dalam bungkus vokal Gania yang terdengar fresh, aggressive, dan memancing kita untuk kembali menghujamkan kaki ke atas kepala teman.
Dibentuk pertengahan tahun 2010, Billfold memang berniat memberikan sebuah pemandangan beda di panggung metal kota kembang. Hardcore/punk dengan sentuhan vokalis perempuan, ah kita tak harus berangkat ke Negeri Paman Sam untuk menemukan band seperti ini! Hahaha….
Tapi, Billfold bukan hanya Gania. Mereka membalut diri dalam sebuah energi konfrontatif, antara hardcore, punk, dan little bit rock. Cobalah tutup mata ketika nomor It’s Over atau Save Them to Save Us diputar dengan level volume medium, kita akan dipapah menuju sebuah lorong di jantung New York 90-an.
Bagi Gania, Angga, Ferrin, dan Pam, ibarat sebuah dompet yang bisa membungkus hal paling esensial ketika mereka bermain musik. “Dalam bahasa Inggris, Billfold memang berarti dompet,” tutur Gania.

MEMBERS
Gania Alianda-vocal
Ferrin-bass
Angga-guitar
Pam Alayubi-drum

GENRE
Punk/Hadrcore/Rock

CONTACT
Brez +628562031969

WEBSITE
http://www.purevolume.com/new/billfold
http://www.facebook.com/pages/Billfold

bandung-underground.com

AFTERCOMA

 
AFTERCOMA awalnya hanya sebuah proyek solo Ridho Fatwerks. Namun, proyek ini akhirnya berevolusi menjadi sebuah konstruksi band pada 2008. Tak perlu menunggu waktu terlalu lama bagi Aftercoma untuk membuktikan eksistensi sebagai sebuah band. Sebuah EP yang diberi tajuk Breath, mereka rilis pada tahun itu juga. Mereka membebaskan seluruh materi di EP tersebut untuk diunduh lewat sejumlah situs.
Cara itu terbukti ampuh untuk mengerek nama Aftercoma. EP Breath bergaung cukup kencang, sehingga kesempatan untuk melabrak panggung demi panggung di scene Bandung Underground pun silih berdatangan. Mulai dari gigs kecil sampai panggung besar. Seiring dengan itu, Aftercoma mulai merenggut massa fanatik.
Massa fanatik Aftercoma kemudian menamakan diri mereka Pemberontak alias Rebels. Nama ini diambil dari singel pertama Aftercoma yang termuat dalam EP Breath.
Musik Aftercoma berfondasi pada hardcore. Namun, mereka juga memperkaya resam musik mereka dengan nuansa heavy metal, punk, dan death metal. Bahkan mereka tidak memungkiri jika ada unsur dari Radiohead, Sigur Ros, atau Explosions in The Sky.
Memasuki tahun 2011, Aftercoma merilis album pertama mereka yang diberi tajuk Breathless. Ini tak lain adalah repackage dari EP Breath, dengan penambahan lima lagu baru. Di album ini, Aftercoma mengajak Ipang BIP untuk berkolaborasi dalam lagu Raga Terbakar. Kolaborasi ini sekaligus peneguhan bahwa musik Aftercoma tidak kaku alias bisa menembus genre lain.


Members
Wyl Mthrfckr-vokal
Ridho Fatwerks Alhadi-gitar/vokal
Ferry Arliansyah-gitar
Dikdik Prasetiadi-bass
Uus Pluto-drum
 
Genre
Metal Hardcore

Website